Beberapa hari sebelum dibagikan tantangan zona 7 kelas bunda sayang IP, puskesmas kami diminta oleh salah satu sekolah dasar untuk menyampaikan pendidikan seks pada anak sekolah dasar. Namun karena kami belum ada yang pernah mendapat pelatihan materi ini sebelumnya sehingga kesempatan ini di serahkan kepada pihak lain yaitu dinas kesehatan. Setelah itu barulah di api unggun zona 7 kelas bunda sayang disampaikan bahwa materinya tentang pendidikan seksualitas pada anak. MaasyaAllah, tak ada yang kebetulan di dunia ini, inilah jalannya Allah agar saya dapat mempelajari ilmu ini.
Baik, kita mulai dari definisi, jadi pendidikan seks itu berbeda dengan pendidikan fitrah seksualitas. Pendidikan seks adalah proses pendidikan memberikan edukasi tentang seks atau alat kelamin dan hal-hal yang terkait dengan organ tersebut. Sedangkan pendidikan fitrah seksualitas adalah proses pendidikan yang bertujuan membuat seseorang dapat berpikir, merasa, dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Menumbuhkan fitrah ini pada anak sangat tergantung pada kehadiran dan kedekatan sosok ayah dan ibu.
Banyak riset yang telah membuktikan bahwa anak-anak yang terpisah dari orangtuanya pada usia dini akibat perang, bencana alam, perceraian, boarding school dan lain sebagainya maka akan mengalami gangguan kejiwaan, perasaan terasing, kehilangan attachment, depresi, dan saat dewasanya memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan dan sebagainya. Sehingga dalam mendidik fitrah seksualitas walaupun sosok ayah dan ibu harus senantiasa hadir, namun dalam proses pendidikan berbasis fitrah, perihal fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda-beda untuk setiap tahapan.
Pendidikan fitrah seksualitas untuk anak usia 0-2 tahun adalah dengan mendekatkan anak laki-laki maupun anak perempuan pada ibunya karena ini merupakan masa menyusui. Saat usia 3-6 tahun maka anak laki-laki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun. Sehingga hal ini mampu membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan dan secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berapakaian maupun cara merasa, berpikir dan bertindak sebagai lelaki atau perempuan dengan jelas. Apabila tidak jelas identitas di usia ini karena ketiadaan peran ayah dan ibu dalam mendidik maka potensi awal homoseksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai. Sehingga hati-hatilah dalam memasukan anak ke PAUD yang gurunya tidak sepasang.
Ketika usia 7-10 tahun, pendidikan fitrah seksualitasnya adalah anak laki-laki lebih didekatkan kepada ayah dan anak perempuan lebih didekatkan kepada ibunya. Karena di usia ini egosentrisnya mereda dan bergeser ke sosiosentris, anak-anak usia ini sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama juga sudah ada perintah shalat. Peran ayah di usia ini adalah menuntun anak untuk memahami peran sosialnya yaitu shalat jamaah, mengajak anak bermain dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya. Ayah harus menjadi lelaki pertama yang dikenang anak-anak lelakinya dalam peran seksualitas kelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki. Begitupula dengan anak perempuan yang harus didekatkan dengan ibunya agar peran keperempuanan dan keibuannya bangkit. Ibu harus menjadi wanita pertama hebat yang dikenang anak-anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanan. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.
Tahap pendidikan fitrah seksualitas selanjutnya yaitu pada usia 10-14 tahun adalah anak lelaki didekatkan kepada ibu dan anak perempuan didekatkan kepada ayah. Anak lelaki di usia ini berada pada masa baligh yang sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami empati langsung dari sosok wanita terdekatnya yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami, dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama sekaligus tempat curhat baginya. Begitu pula makna mengapa saat usia ini anak perempuan didekatkan kepada ayahnya.
sumber referensi:
1. Buku Tuntas Seksualitas Pendidikan Fitrah Seksualitas Anak laki-laki dan Perempuan yang ditulis oleh Ani Christina
2. Buku Fitrah Based Education yang ditulis oleh Harry Santosa
#hari ke-1
#tantangan15hari
#zona7pendidikanseksualitas
#topik5menjagadiridarikejahatanseksual
#pantaibentangpetualang
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Komentar
Posting Komentar