Teringat dahulu saat kelahiran anak pertama kami, Rumaisha Khoirotun Hisan membuat kami harus terjaga di malam hari selama 2,5 bulan. Hampir setiap hari kami baru bisa tidur malam jam 5 subuh. Sepanjang malam baby Rumaisha menangis tiada henti. Hal tersebut membuat kami stres sebagai orangtua baru. Belum lagi omongan dari orangtua kami yang mengira ASI saya kurang untuk sang baby sehingga abah saya menawarkan untuk membelikan susu formula untuk si baby. Mereka mengira baby menangis karena kehausan akibat ASI yang keluar sedikit. Tapi kami berdua tetap sepakat untuk memberikan ASI kepada baby Rumaisha sesulit apapun kondisi saat itu.
Memang tidak semua tangisan bayi dapat diterjemahkan, tapi bayi baru lahir yang menangis tiada henti belum tentu berarti ia kehausan karena ASInya kurang. Walaupun di masa awal kelahiran produksi ASI para ibu masih sangat sedikit. Hal itu karena menyesuaikan lembung bayi yang berukuran sangat kecil, sehingga wajar produksi ASI sang ibu masih sangat sedikit. Selain itu, kondisi psikologis ibu sangat mempengaruhi produksi ASI sehingga para ibu pasca melahirkan diharapkan selalu bahagia dengan dukungan suami atau keluarga terdekat agar ibu tidak stres bahkan kelelahan dalam menghadapi hari-hari awal pasca lahiran.
Tangisan bayi baru lahir dapat disebabkan karena baby mengantuk, kondisi lingkungan yang bising, baby kedinginan atau kepanasan, popoknya yang basah atau kondisi ibu yang cemas/stres juga dapat membuat perasaan baby tidak nyaman sehingga ia menangis tiada henti. Cek terlebih dahulu kondisi baby saat itu. Jangan lupa tenangkan diri kita dulu sebagai orangtua, gendonglah baby dan senandungkan nyanyian lembut untuk menenangkan baby yang menangis.
Apabila baby tetap menangis juga, amatilah tubuhnya secara menyeluruh, apakah ada perut yang membuncit dan bayi muntah berulang? Apakah baby mengalami demam tinggi? ataukah pola tangisan baby terdengar seolah ia mengalami nyeri? Jika tangisan baby tidak berhenti setelah ditenangkan dengan segala cara dan bayi mengalami tanda-tanda kegawatan, maka segeralah konsultasikan kepada dokter.
Referensi: Buku "Orangtua Cermat Anak Sehat" yang ditulis oleh dr.Arifianto, sp.A
Komentar
Posting Komentar