Langsung ke konten utama

Catatan Materi Peran Lingkungan dan Perlindungan dari Kejahatan Seksual

Kekerasan seksual adalah setiap tindakan baik berupa ucapan maupun perbuatan yang dilakukan seseorang untuk menguasai atau memanipulasi orang lain serta membuatnya dalam aktivitas seksual yang tidak dikehendaki. Bentuk kekerasan seksual pada anak menurut Komnas Perlindungan Anak adalah keterlibatan seorang anak dalam segara bentuk aktivitas seksual yang terjadi sebelum anak mencapai batasan umur tertentu yang ditetapkan oleh hukum negara yang bersangkutan dimana orang dewasa atau anak lain yang usianya lebih tua atau orang yang dianggap memiliki pengetahuan yang lebih dari anak memanfaatkan sang anak untuk kesenangan seksual. 

Menurut Komnas Perempuan bentuk kekerasan seksual pada anak diantaranya adalah perkosaan, intimidasi seksual, pelecehan seksual dan eksploitasi seksual. Terdapat dua kategori besar kekerasan seksual pada anak yaitu familial abuse dan extra familial abuse. Familial abuse adalah kekerasan seksual dimana antara korban dan pelaku masih ada hubungan darah atau menjadi bagian dalam kelauraga tersebut seperti ayah tiri, pengganti orangtua atau pengasuh anak yang dipercaya di rumah. Selanjutnya extra familial abuse adalah kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang lain diluar lingkungan keluarga. Bentuk kekerasan seksual dalam hal ini terdiri dari tiga kategori yaitu: penganiayaan, perkosaan atau hubungan dengan alat kelamin seperti masturbasi dan perkosaan fisik secara paksa.

Sasaran kekerasan seksual umunya adalah:

1. Anak berusia dibawah 5 tahun atau balita yang merupakan anggota terlemah dalam sebuah keluarga karena belum mampu membela diri saat ada bahaya

2. Anak berusia 6-12 tahun yang mulai berinteraksi dengan dunia luar, pada usia ini apabila anak menghadapi bahaya, maka mereka dapat berteriak meminta tolong

3. Usia 13-18 tahun yang sebagian besar sudah dapat mengantisipasi apabila ada bahaya yang datang

Dampak kekerasan seksual bagi anak dan dewasa yang menjadi korban adalah sebagai berikut:

- Dampak traumatis

- Dampak emosional dan fisik

- Gangguan psikologis

- Korban memiliki potensi untuk menjadi pelaku kekerasan seksual

Upaya untuk melindungi dari kekerasan seksual ada dua yaitu upaya preventif dan represif. Upaya preventif adalah upaya yang dapat dilakukan oleh keluarga dan masyarakat untuk mengetahui penyebab pelaku melakukan kekerasan seksual kemudian keluarga dan masyarakat melakukan pencegahan dengan melakukan tindakan-tindakan perlindungan. Sedangkan upaya represif yaitu sanksi-sanksi pidana yang telah diatur oleh negara untuk melindungi warga negaranya dari tindakan kekerasan seksual.

Peran individu dan keluarga dalam upaya preventif yaitu sebagai berikut:

1. Orangtua harus peka apabila melihat sinyal yang tak biasa dari diri anak

2. Membangun kelekatan antar anggota keluarga dengan baik

3. Membangun pola komunikasi yang efektif, terbuka, terarah, langsung sesuai verbal dan non verbal

4. Orangtua memahami dampak kekerasan seksual

5. Orangtua harus merubah mindset tabu dalam membicarakan perihal seksual kepada anak

6. Menananmkan nilai spiritual dalam keluarga

7. Orangtua melakukan pendidikan seksual pada anak sejak usia dini

Peran masyarakat dalam upaya preventif yaitu sebagai berikut:

1. Mengajarkan anak untuk mengenali, menolak dan melaporkan potensi ancaman kekerasan

2. Membentuk komunitas yang peduli terhadap berbagai permasalahan masyarakat

3. Pendidikan sosial dalam rangka mengembangkan tanggungjawab masyarakat

4. Penggarapan kesehatan jiwa masyarakat melalui pendidikan moral dan agama

Peran negara dalam upaya represif yaitu sebagai berikut:

1. Memberi sanksi pidana bagi para pelaku yang telah diatur dalam KUHP dan UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak

2. Membentuk badan-badan pemerhati anak seperti KPAI, Komnas Perlindungan Anak dan sebagainya

3. Pemulihan bagi korban meliputi aspek yuridis, psikologis dan medis


sumber referensi: 

slide presentasi kelompok 31 "Peran Lingkungan dan Perlindungan dari Kejahatan Seksual" dari regional Sumatera Utara dan Sungai Penuh Kerinci

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merimbunkan Pohon Baca #13

Nama: Rumaisha Khoirotun Hisan Kelompok Usia Pondok: 0-6 tahun Rencana Project: - Membacakan buku cerita kepada anak setiap hari kemudian ananda menempelkan daun/buah di pohon baca setelah selesai dibacakan buku - Project ini bertujuan untuk melihat respon ananda merimbunkan pohon baca dengan menempelkan daun/buah setiap selesai dibacakan buku - Dokumentasi dalam bentuk foto dan video ananda menempel daun/buah di pohon baca Sumber Referensi & Media Digital: Buku Kisah Umar bin Al Khattab halaman 28 dengan judul umar bin al khattab menjadi khalifah Aplikasi editing Foto: FotoRus Aktivitas Harian: Hari ini umi yang menjadi petugas pembaca bukunya dan abi bertugas sebagai dokumentasi. Kemudian setelah membacakan buku kepada kaka Rumaisha, kami meminta ia merimbunkan pohon baca lagi. Ternyata hari ini ia meminta dibuatkan buah jambu air untuk ditempel di pohon baca. Abi yang menggambar buahnya kemudian saya review kembali kisah yang telah dibacakan dan diakhir ia sampaikan kalau perasa...

Yuk Kenali Batuk Pilek pada Anak

Taukah bunda bahwa batuk dan pilek bermanfaat untuk kita?  Batuk dan pilek sebenarnya diciptakan untuk membuang benda asing seperti virus, bakteri, debu, lendir dan partikel kecil lain yang masuk ke dalam saluran napas kita dimulai dari tenggorokan hingga organ paru. Batuk diciptakan untuk menjaga saluran napas tetap bersih agar seseorang tidak mengalami sesak napas. Sedangkan pilek yang berupa ingus atau lendir juga bertujuan untuk mengeluarkan benda asing dari saluran napas atas manusia. Batuk pilek dalam istilah medis disebut common cold atau selesma yaitu merupakan infeksi virus yang menyerang saluran napas atas (hidung sampai tenggorokan). Gejala common cold atau selesma adalah ingus meler atau hidung mampet, batuk, dan dapat disertai demam, sakit kepala, nyeri otot serta nyeri menelan. Ada banyak virus yang dapat menyebabkan selesma, namun jenis  rhinovirus  yang paling sering menginfeksi manusia, meskipun  rhinovirus  juga memiliki 100 jenis virus berbe...

Tantangan Komunikasi Produktif #2

B ismillah.. Temuan hari ini adalah masih mengajak kakak Rumaisha untuk mandi tanpa paksaan. Alhamdulillah tadi pagi kakak sedang dalam kondisi good mood , saya mencoba menerapkan komunikasi produktif lagi, alhamdulillah responnya sangat baik walaupun agak lambat dikerjakan. Tapi saya bahagia melihatnya karena kakak akhirnya mau mandi sendiri tanpa dipaksa. Tantangan yang dihadapi adalah lamanya waktu yang diperlukan agar kakak mau mandi sendiri tanpa paksaan. Tapi sebagai orangtua kita harus memiliki stok sabar yang banyak dan mampu mengendalikan emosi. Bagi saya, anak dan orangtua dalam hal ini sama-sama belajar sehingga harus menjalankannya dengan tenang dan bahagia. Poin Komunikasi produktif hari ini adalah: Pemilihan kata dengan mengganti kata perintah dengan pilihan KISS (Keep Information Short & Simple) Mengendalikan intonasi suara dan menggunakan suara ramah Mengatakan apa yang diinginkan bukan yang tidak kita inginkan Mengendalikan emosi Rencana untuk esok hari adalah mela...