Pagi ini di puskesmas kami ada pelatihan tes diagnostik COVID-19 khususnya pemeriksaan rapid antigen. Kami para tenaga medis diminta oleh pimpinan puskesmas untuk mengikuti pelatihan tersebut dengan seksama karena kami disiapkan sebagai petugas yang melaksanakan pemeriksaan rapid antigen di puskesmas kami. Materi disampaikan oleh seorang dokter spesialis patologi klinik dengan sangat jelas dan detail. Saya sangat tertarik dengan materi yang beliau sampaikan. Berikut hasil catatan saya mengenai pelatihan pemeriksaan swab.
Pemeriksaan untuk mendeteksi SARS-COV2 kini telah banyak berkembang, awalnya sampel hanya diambil dari hidung (nasofaring), tenggorokan (orofaring) dan dahak (sputum) namun kini sampel bisa diambil dari darah, ludah bahkan feses. Namun lokasi pengambilan sampel tersebut mempengaruhi jumlah virus yang diambil sebagai sampel, itulah sebabnya mengapa pemeriksaan swab PCR mengambil sampel dari 2 lokasi yaitu dari hidung dan tenggorok, hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan jumlah virus yang diambil sebagai sampel untuk diperiksa di laboratorium. Pengambilan sampel pemeriksaan ini bertujuan untuk mengambil sel hidup yang terinfeksi COVID-19 karena virus ini hanya dapat hidup apabila ada inangnya yaitu sel hidup sehingga jika virus ini menempel pada benda mati maka ia tidak akan bertahan lama.
Metode pemeriksaan COVID-19 ada banyak sekali, namun yang umum dikenal adalah metode pemeriksaan swab PCR dengan sampel swab hidung dan tenggorok yang bertujuan mendeteksi materi genetik (RNA) virus COVID-19 dan metode pemeriksaan rapid test antigen dengan menggunakan sampel swab hidung atau tenggorok yang bertujuan untuk mendeteksi antigen virus yang ada di dalam tubuh orang yang terinfeksi. Kemudian ada juga metode pemeriksaan rapid test antibodi yang menggunakan sampel darah penderita dengan tujuan untuk mendeteksi antibodi (kekebalan tubuh) yang telah terbentuk setelah orang tersebut terinfeksi virus COVID-19. Metode pemeriksaan tersebut dapat mendeteksi COVID-19 apabila digunakan sesuai waktu perjalanan penyakit (onset gejala) yang dialami oleh penderita.
Berdasarkan perjalanan penyakit COVID-19, maka di hari awal terinfeksi (hari ke-0 dari onset gejala) maka virus COVID-19 dapat dideteksi dengan metode pemeriksaan PCR menggunakan sampel swab hidung dan tenggorok. Sedangkan pemeriksaan rapid test antigen dengan menggunakan sampel swab hidung atau tenggorok dapat mendeteksi virus COVID-19 dimulai hari ke-3 hingga hari ke-6 dari onset gejala. Sedangkan rapid test antibodi dapat mendeteksi respon kekebalan tubuh yang terbentuk diatas hari ke-7 untuk IgM dan diatas hari ke-10 untuk IgG. Khusus metode pemeriksaan PCR dapat mendeteksi dari awal onset gejala hingga diatas hari ke-10 bahkan ada yang hingga 3 minggu hasilnya masih bertahan positif. Namun berdasarkan penelitian bahwa hari ke-10 terinfeksi virus COVID-19 maka dinyatakan virusnya sudah tidak menularkan, sehingga syarat isolasi mandiri pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yaitu selama 10 hari ditambah 3 hari bebas gejala.
Selanjutnya dibahas mengenai teknik pengambilan sampel swab hidung dan tenggorok. Alat swab dua lokai tersbut berbeda, alat swab untuk hidung lebih lentur dan ramping disebut flocked swab dengan bentuknya yang bergerigi untuk memudahkan sampel virus terperangkap dalam alat tersebut. Sedangkan alat swab tenggorok lebih kaku dan tebal, bentuknya seperti cotton bud untuk mempermudah pemeriksa mengusap tenggorokan pasiennya. Kedua alat swab tersebut kemudian dipatahkan sebagian tangkainya agar dapat masuk kedalam tabung media transpor virus untuk dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan PCR atau alat swab tersebut dimasukan kedalam tabung cairan buffer untuk pemeriksaan rapid test antigen. Setelah itu, hasilnya dapat ditunggu berdasarkan waktu pemeriksaan sesuai metode yang digunakan.
Komentar
Posting Komentar