Saat mengikuti pelatihan online "A Home Team" dari bu Septi dan pak Dodik bulan April lalu, para peserta diberi contoh bagaimana tahapan membangun A Hometeam. Diawali dengan membangun pondasi dasar menggunakan model rumah A Hometeam. Pondasi dasar tersebut diawali dengan mengenali potensi kekuatan suami/istri, kemudian mengenali potensi kekuatan anak-anak di rumah. Setelah mengenali kekuatan masing-masing anggota keluarga, kemudian dicari indikator keberhasilan atau indikator sukses keluarga dan bagian akhir adalah nama keluarga serta tata nilai yang disepakati oleh semuas anggota keluarga.
Saat itu sudah terbayang bagaimana cara membuat model rumah A Hometeam ala keluarga kami. Kemudian saya menulis di kertas flipchart menggambar model rumah A Hometeam ukuran besar. Di kertas tersebut saya tuliskan kekuatan/kehebatan suami dan anak-anak dan nama keluarga. Sedangkan bagian lainnya saya kosongkan. Kemudian saya tempel kertas tersebut di dinding kamar ruang main dan minta kepada suami untuk mengisi kekuatan/kehebatan istrinya serta menambahakan kekuatan/kehebatan anak. Namun ternyata suami belum juga mengisinya hingga kertasnya disobek oleh anak-anak saat mereka bermain T_T dan akhirnya model rumah A Hometeam belum terbentuk dan terlupa melengkapi seiring berjalannya waktu.
Bulan November ini saya kembali mengikuti pelatihan online A Hometeam intermediate. Materi pertama membahas tentang model rumah A Hometeam, saya pun teringat kembali bahwa belum melengkapi model rumah tersebut. Akhirnya saya tekadkan kembali bahwa model rumah A Hometeam keluarga kami harus terbentuk. Ibu Septi juga menguatkan kami dengan memberikan challenge untuk mengumpulkan model rumah A Hometeam masing-masing keluarga. Akhirnya di hari Sabtu lalu saya meminta tolong kepada suami untuk membantu menyelesaikan challenge bu Septi dengan bersama membuat model rumah A Hometeam di atas kertas. Sebelumnya suami merasa sakit punggung dan minta dikerok dan kesempatan ini saya jadikan AHA moment untuk membahas model rumah A Hometam keluarga kami. Sambil memijat dan mengerok punggung suami saya ajak beliau berpikir tentang A Hometeam, lalu setelah selesai saya menuliskan kekuatan/kehebatan suami selanjutnya saya minta beliau menuliskan kekuatan/kehebatan istrinya. Kemudian kami tuliskan kekuatan/kehebatan anak-anak yaitu Rumaisha dan Hamasi. Curah pendapat pun terjadi saat kami membahas indikator sukses keluarga dan tata nilai. Dengan melihat dan mencontoh beberapa indikator sukses dan tata nilai keluarga yang lain, lalu dimodifikasi dan menyesuaikan dengan keluarga kami. Akhirnya terbentuk kesepakatan menghasilkan 3 indikator sukses keluarga dan 3 tata nilai keluarga kami.
Sekian cerita seru dibalik pembentukan model rumah A Hometeam dari keluarga kami. Hikmah dari cerita ini adalah pentingnya komunikasi antar pasangan dalam membahas tentang keluarga masing-masing. Sehingga sangat perlu untuk menjadwalkan rutin waktu ngobrol bermakna yang agendanya untuk membangun kekuatan keluarga dari rumah masing-masing.
Komentar
Posting Komentar